37 Bacaan Surat Pendek dalam Juz Amma / Juz 30 Yang Sesuai Urutan : Pengertian, Tulisan Arab, Latin, dan Arti / Terjemahan

#Tags

Bogor, halamanbogor.com -- Biasanya saat hendak salat Tahajud atau Tarawih yang memiliki jumlah rakaat yang banyak, bacaan surat pendek akan menjadi pilihan. Juz Amma yang dikenal memiliki banyak pilihan bacaan surat pendek, menjadi favorit banyak orang untuk dibaca saat salat.

Juz amma  bisa dikenalkan untuk anak  saat belajar menghafalkan Alquran. Juga bisa dibaca pada saat-saat tertentu dengan tidak berkurangnya pahala meski memiliki ayat yang sedikit.

Selain itu, seorang muslim diwajibkan untuk membaca Alquran walau hanya satu ayat. Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya:

“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘alif laam miim’ itu satu huruf, akan tetapi, Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” 

(HR. Tirmidzi no. 2915. Dinilai shahih oleh Al-Albani).


Pengertian Juz Amma

Juz Amma adalah juz terakhir dalam Alquran. Di dalam Juz Amma, terdapat 37 surat pendek, diawali dengan surat An-Naba’ kemudian diakhiri oleh surat An-Naas. Sebagian besar surat-surat pendek ini merupakan surat Makkiyah atau surat yang diturunkan di kota Makkah seperti surat Al-Ikhlas, Al-Kautsar, An-Naas dan lain sebagainya.

Sedangkan surat yang diturunkan di Madinah adalah surat Al-Bayyinah, surat Az-Zalzalah, serta surat An-Nasr.


Ciri surat yang diturunkan di Makkah adalah surat tersebut memiliki ayat yang pendek, mempunyai tatanan kalimat yang indah dan enak didengar, isi surat menyentuh, dan ayat-ayat kuat serta tidak terbantahkan.

Sedangkan karakteristik surat yang diturunkan di Madinah yakni memiliki ayat yang panjang, memakai kalimat dan ungkapan yang menjelaskan syariat.  Biasanya membahas tentang hukum sehingga isi surat sangat mendalam dan deskriptif.



Dari 37 surat-surat pendek di dalam Juz Amma, terdapat 1 surat yang memiliki ayat terbanyak yaitu Surat An-Nazi’at yang mempunyai 46 ayat. Sedangkan surat dengan ayat paling sedikit atau ayat paling pendek yaitu surat Al-Kautsar yang berjumlah 3 ayat.  Pilihan bacaan surat pendek tersebut dibacakan setelah surat Al-Fatihah saat melaksanakan salat.

Juz Amma sendiri mempunyai pokok pembahasan yang di bahas di tiap-tiap surat. Misalnya, terdapat beberapa surat yang membahas keesaan Allah SWT, seperti dalam surat An-Naas. Ada juga perintah kepada manusia untuk melakukan dakwah, perintah untuk iqra atau membaca yaitu pada surat Al-Alaq. Lalu ada cerita kisah suatu kaum terdahulu dan sifat manusia yang mendapat siksaan seperti kaum kafir yaitu pada surat Al-Kafirun.


BACAAN SURAT SURAT JUZ AMMA ( TULISAN ARAB, LATIN, DAN ARTI / TERJEMAHAN)

Berikut ini adalah surat pendek yang terdapat dalam Alquran yang dirangkum dalam Juz Amma, disusun secara berurutan.

1.    Surat An Nas


قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ . مَلِكِ النَّاسِ . إِلَهِ النَّاسِ . مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ . الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ . مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Qul a’uudzu birobbinnaas. Malikin naas. Ilaahin naas. Min syarril waswaasil khonnaas. Alladzii yuwaswisu fii shuduurin naas, minal jinnati wan naas

Artinya :
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (QS. An Nas: 1-6)

2.    Al Falaq


قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ . وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ . وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . وَمِنْ شَرِّحَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Qul a’uudzu birobbil falaq. Min syarri maa kholaq. Wa min syarri ghoosiqin idzaa waqob. Wa min syarrin naffaatsaati fil ‘uqod. Wa min syarri haasidin idzaa hasad

Artinya :

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”. (QS. Al Falaq: 1-5)


3. Al Ikhlas


قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Qul huwalloohu ahad. Alloohush shomad. Lam yalid walam yuulad. Walam yakul lahuu kufuwan ahad

Artinya :
Katakanlah: “Dialah Allah Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)

4.    Al Lahab

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ . مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ . سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ . وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ .

Tabbat yadaa abii lahabiw watabb. Maa aghnaa ‘anhu maaluhuu wamaa kasab. Sayashlaa naaron dzaata lahab. Wamroatuhuu hammaalatal hathob. Fii jiidihaa hablum mim masad

Artinya :
“Binasalah kedua tangan Abu lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta benda dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang dilehernya ada tali dari sabut”. (QS. Al Lahab: 1-5)


5. Surat An Nasr

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ . وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا . فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَتَوَّابًا

Idzaa jaa-a nashrulloohi wal fath. Waro-aitan naasa yadkhuluuna fii diinillaahi afwaajaa. Fasabbih bihamdi robbika wastaghfirhu innahuu kaana tawwaabaa

Artinya “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat”. (QS. An Nasr: 1-3)

6. Surat Al Kafirun


قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ . لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ . وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ . وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ . وَلَا أَنْتُمْعَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ . لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Qul yaa ayyuhal kaafiruun, laa a’budu maa ta’buduun. Walaa antum ‘aabiduuna maa a’bud. Wa laa ana ‘aabidum maa ‘abadtum. Wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud. Lakum diinukum waliya diin


Artinya
Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 1-6)

7. Surat Al-Kautsar


إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Innaa a’thoinaa kal kautsar. Fasholli lirobbika wanhar. Inna syaani,aka huwal abtar
Artinya “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”. (QS. Al Kautsar: 1-3)

8. Surat Al Maun

 أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ . فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ . وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ . فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ , الَّذِينَ هُمْ عَنْ

 صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ . الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ . وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

Aro,aital ladzii yukadzdzibu bid diin. Fadzaalikal ladzii yadu’ul yatiim. Walaa yahudldlu ‘alaa tho’aamil miskiin. Fawailul lil musholliinal ladziina hum ‘an sholaatihim saahuun. Alladziinahum yuroo,uun. Wayamna’uunal maa’uun

Artinya :
”Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”. (QS. Al Maun: 1-7)

9. Surat Quraisy

إِيلَافِ قُرَيْشٍ . إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ . فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ . الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
Li,iilaafi quroisy. Iilaafihim rihlatasy syitaa,i wash shoif. Fal ya’buduu robba haadzal bait. Alladzii ath’amahum min juu’iw wa aamanahum min khouf

Artinya :

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”.  (QS. Quraisy: 1-4)

10. Al Fil


أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ . أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ . وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ . تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ

 سِجِّيلٍ . فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ

Alam taro kaifa fa’ala robbuka bi-ashhaabil fiil. Alam yaj’al kaidahum fii tadlliil. Wa arsala ‘alaihin thoiron abaabiil. Tarmiihim bihijaarotim min sijjiil. Faja’alahum ka’ashfim ma’kuul

Artinya :
 “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”. (QS. Al Fil: 1-5)

11.  Surah Al Humazah


وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ . الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ . يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ . كَلَّا لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ . 

نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ . الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ . إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ . فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍ


Wailul likulli humazatil lumazah. Alladzii jama’a maalaaw wa’addadah. Yahsabu anna maalahuu akhladah. Kallaa layumbadzanna fil huthomah. Wamaa adrooka mal huthomah. Naarulloohil muuqodah. Allatii taththoli’u ‘alal af’idah. Innahaa ‘alaihim mu’shodah. Fii ‘amadim mumaddadah


Artinya :

 “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang”. (QS. Al Humazah: 1-9)


12.Surah Al Ashr

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Wal ‘ashr. Innal insaana lafii khusr. Illal ladziina aamanuu wa’amilush shoolihaati watawaashou bilhaqqi watawaashou bish shobr

Artinya :
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.  (QS. Al Ashr: 1-3)

13. Surat At-Takatsur

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ . حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ . كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ . ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ . كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ . لَتَرَوُنَّ

 الْجَحِيمَ . ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ . ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Alhaakumut takaatsur. Hattaa zurtumul maqoobir. Kallaa saufa ta’lamuun. Tsumma kallaa saufa ta’lamuun. Kallaa lau ta’lamuuna ‘ilmal yaqiin. Latarowunnal jahiim. Tsumma latarowunnahaa ‘ainal yaqiin. Tsumma latus-alunna yauma-idzin ‘anin na’iim

Artinya :
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”. (QS. At Takatsur: 1-8)

14. Al-Qari’ah

الْقَارِعَةُ . مَا الْقَارِعَةُ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ . يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ . وَتَكُونُ الْجِبَالُكَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ . 

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ . فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ . وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ . فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌوَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ . نَارٌ حَامِيَةٌ .

Al qoori’ah. Mal qoori’ah. Wa maa adrooka mal qoori’ah. Yauma yakuunun naasu kal faroosyil mabtsuuts. Wa takuunul jibaalu kal ‘ihnil manfuusy. Fa ammaa man tsaqulat mawaaziinuh. Fahuwa fii ‘iisyatir roodliyah. Wa ammaa man khoffat mawaaziinuhu. Fa ummuhuu haawiyah. Wa maa adrooka maahiyah. Naarun haamiyah

Artinya :
“Hari Kiamat, apakah hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al Qariah: 1-11)

15. Surat Al-‘Adiyat

  وَٱلْعَٰدِيَٰتِ ضَبْحًافَٱلْمُورِيَٰتِ قَدْحًافَٱلْمُغِيرَٰتِ صُبْحًافَأَثَرْنَ بِهِۦ نَقْعًفَوَسَطْنَ بِهِۦ جَمْعًاإِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٌوَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ 

لَشَهِيدٌوَإِنَّهُۥ لِحُبِّ ٱلْخَيْرِ لَشَدِيدٌ۞ أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِى ٱلْقُبُوروَحُصِّلَ مَا فِى ٱلصُّدُورإِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌۢ

wal-‘ādiyāti ḍab-ḥā fal-mụriyāti qad-ḥā fal-mugīrāti ṣub-ḥā fa aṡarna bihī naq’ā fa wasaṭna bihī jam’ā innal-insāna lirabbihī lakanụd wa innahụ ‘alā żālika lasyahīd wa innahụ liḥubbil-khairi lasyadīd a fa lā ya’lamu iżā bu’ṡira mā fil-qubụr wa huṣṣila mā fiṣ-ṣudụr inna rabbahum bihim yauma`iżil lakhabīr

Artinya :
“Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.” (QS Al-Adiyat: 1-10)

16. Surat Az-Zalzala

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ إِذَا زُلْزِلَتِ ٱلْأَرْضُ زِلْزَالَهَا. وَأَخْرَجَتِ ٱلْأَرْضُ أَثْقَالَهَا. وَقَالَ ٱلْإِنسَٰنُ مَا لَهَا. يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ 

أَخْبَارَهَا. بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا. يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ ٱلنَّاسُ أَشْتَاتًا لِّيُرَوْا۟ أَعْمَٰلَهُمْ. فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ

 ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

idzaa zulzilatil ardhu zilzaalahaa. wa-akhrojatil ardhu atsqoolahaa. waqoolal insaanu maa lahaa. yauma-idzin tuhadditsu akhbaarohaa. bi-anna robbaka auhaa lahaa. yaumaidziy yashdurun naasu asytaatal liyuraw a’maalahum. amay ya’mal mitsqoola dzarrotin khoiroy yaroh. wamay ya’mal mitsqoola dzarrotin syarroy yaroh.

Artinya :

 “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Apa yang terjadi dengan bumi ini?” pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok(1), untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya, Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (QS. Az-Zalzalah: 1-8)

17. Al-Bayyinah

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً فِيهَا كُتُبٌ

 قَيِّمَةٌ وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ 

أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ 

تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

lam yakunillażīna kafarụ min ahlil-kitābi wal-musyrikīna munfakkīna ḥattā ta`tiyahumul-bayyinah rasụlum minallāhi yatlụ ṣuḥufam muṭahharah fīhā kutubung qayyimahdi dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus (benar). wa mā tafarraqallażīna ụtul-kitāba illā mim ba'di mā jā`at-humul wa mā umirū illā liya'budullāha mukhliṣīna lahud-dīna ḥunafā`a wa yuqīmuṣ-ṣalāta wa yu`tuz-zakāta wa żālika dīnul innallażīna kafarụ min ahlil-kitābi wal-musyrikīna fī nāri jahannama khālidīna fīhā, ulā`ika hum syarrul innallażīna āmanụ wa 'amiluṣ-ṣāliḥāti ulā`ika hum khairul-bariyyah jazā`uhum 'inda rabbihim jannātu 'adnin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā abadā, raḍiyallāhu 'an-hum wa raḍụ 'an-h, żālika liman khasyiya rabbah

Artinya :
“Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran), di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS Al Bayinah: 1-8)

18.Surah Al Qadr


اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْر.ِوَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ.ۗ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ.ۗ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ

 مِنْ كُلِّ اَمْرٍ.ۛ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِۛ

innā anzalnāhu fī lailatil-qadr. wa mā adrāka mā lailatul-qadr. lailatul-qadri khairum min alfi syahr. tanazzalul-malā`ikatu war-rụḥu fīhā bi`iżni rabbihim, ming kulli amr. salāmun hiya ḥattā maṭla'il-fajr

Artinya :
 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar”. (QS Al Qadr: 1-5)

19. Surat Al-‘alaq


اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسٰنَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ كَلَّآ إِنَّ الْإِنْسٰنَ 

لَيَطْغَىٰٓ أَنْ رَّءَاهُ اسْتَغْنَىٰٓ إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الرُّجْعَىٰٓ أَرَءَيْتَ الَّذِى يَنْهَىٰ عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰٓ أَرَءَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَىٰٓ أَوْ أَمَرَ 

بِالتَّقْوَىٰٓ أَرَءَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰٓ أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللهَ يَرَىٰ كَلَّا لَئِنْ لَّمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًۢا بِالنَّاصِيَةِ نَاصِيَةٍ كٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍ فَلْيَدْعُ نَادِيَهٗ

 سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

iqro’ bismirobbikalladzii kholaq kholaqol insaana min ‘alaq iqro’ warobbukal akrom alladzii ‘allama bil qolam ‘allamal insaana maa lam ya’lam kallaa innal insaana layath-ghoo arro-aahus taghnaa inna ilaa robbikar ruj’aa aro-aital ladzii yanhaa ‘abdan idzaa shollaa aro-aita ingkaana ‘alal hudaa au amaro bit taqwaa aro-aita ing kadzdzaba watawallaa alam ya’lam bi annallooha yaroo kallaa la-il lam yantahii lanasfa’am bin naashiyah naashiyating kaadzibatin khooti-ah falyad’u naadiyah sanad’uz zabaaniyah kallaa laa tuthi’hu wasjud waqtarib

Artinya :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas apabila melihat dirinya serba cukup. Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia melaksanakan shalat, Bagaimana pendapatmu jika dia (yang dilarang shalat itu) berada di atas kebenaran (petunnjuk). atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang) itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)? Sekali-kali tidak! Sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (ke dalam neraka). (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka. Maka biaarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya). Kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah (penyiksa orang-orang yang berdosa), sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah).” (QS Al-Alaq: 1-18)

20. Surah At-Tin

وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِۙ.وَطُوْرِ سِيْنِيْنَۙ.وَهٰذَا الْبَلَدِ الْاَمِيْنِۙ.لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ.ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سَافِلِيْنَۙ.اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا

 وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍۗ.فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّيْنِۗۗاَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَحْكَمِ الْحٰكِمِيْنَۗ

wat-tīni waz-zaitụn. wa ṭụri sīnīn. wa hāżal-baladil-amīn. laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm. ṡumma radadnāhu asfala sāfilīn. illallażīna āmanụ wa 'amiluṣ-ṣāliḥāti fa lahum ajrun gairu mamnụn. fa mā yukażżibuka ba'du bid-dīn. a laisallāhu bi`aḥkamil-ḥākimīn.

Artinya :

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, demi gunung Sinai, dan demi negeri (Mekah) yang aman ini. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya. Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah hakim yang paling adil?” (QS At-Tin: 1-8)

21.  Surat Al-Insyirah


اَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَـكَ صَدۡرَكَۙ


وَوَضَعۡنَا عَنۡكَ وِزۡرَكَۙ


الَّذِىۡۤ اَنۡقَضَ ظَهۡرَكَۙ


وَرَفَعۡنَا لَـكَ ذِكۡرَكَؕ


فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا


اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا ؕ‏


فَاِذَا فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡۙ


وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ

 

alam nasyroh laka shodrok wawadho’naa ‘anka wizrok alladzii ankqodho dhohrok warofa’naa laka dzikrok fa-inna ma’al ‘usri yusroo inna ma’al ‘usri yusroo fa-idzaa faroghta fangsob wa-ilaa robbika farghob

Artinya :

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?, an Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu, yang memberatkan punggungmu, dan Kami tinggikan sebutan nama(mu) bagimu. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap. (QS Al-Insyirah: 1-8)

BACA JUGA :

Surah Al-Mulk : Tulisan Arab, Tulisan Latin, Terjemahan Berdasarkan Kemenag

Adab Membaca Al Quran yang Baik Menurut Islam Dan Cara Belajar Membaca

 

22. Surat Ad Dhuha

وَالضُّحٰىۙۗ.وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ.مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ.وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ.وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰىۗ.اَلَمْ يَجِدْكَ 

يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ.وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ.وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ.فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ.وَاَمَّا السَّاۤىِٕلَ فَلَا تَنْهَرْ. وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ.

waḍ-ḍuḥā. wal-laili iżā sajā. mā wadda'aka rabbuka wa mā qalā. wa lal-ākhiratu khairul laka minal-ụlā. wa lasaufa yu'ṭīka rabbuka fa tarḍā. a lam yajidka yatīman fa āwā. wa wajadaka ḍāllan fa hadā. wa wajadaka 'ā`ilan fa agnā. fa ammal-yatīma fa lā taq-har. wa ammas-sā`ila fa lā tan-har. wa ammā bini'mati rabbika fa ḥaddiṡ.

Artinya :
”Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu, dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu), dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk, dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya).
Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)”.  (QS Ad Dhuha: 1-11)


23. Al-Lail

وَالَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰوَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰوَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنثَىٰٓإِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰفَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰوَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰفَسَنُيَسِّرُهٗ

 لِلْيُسْرَىٰوَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰوَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰفَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرَىٰوَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهٗ إِذَا تَرَدَّىٰٓإِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰوَإِنَّ لَنَا لٙلْأٓخِرَةَ

 وَالْأُولَىٰفَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰلَا يَصْلَىٰهَآ إِلَّا الْأَشْقَىالَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰوَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَىالَّذِى يُؤْتِى مَا لَهٗ يَتَزَكَّىٰوَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهٗ مِن

  نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓإِلَّا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰوَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ

wallaili idzaa yaghsyaa wannahaari idza tajallaa wamaa kholaqodzdzakaro wal unstaa inna sa’yakum lasyattaa fa-ammaa man a’thoo wattaqoo washoddaqo bil husnaa fasanuyassiruhuu lilyusroo wa-ammaa mam bakhila wastaghnaa wakadzdzaba bil husna fasanuyassiruhuu lil ‘usroo wamaa yughnii ‘anhumaa luhuu idzaa taroddaa inna ‘alainaa lalhudaa wa-inna lanaa lal-aakhirota wal uulaa fa-angdzartukum naarong taladhdhoo laa yashlaahaa illaal asyqoo  alladzii kadzdzaba watawallaa wasayujannabuhal atqoo alladzii yu’tii maalahu yatazakkaa wamaa li-ahadin ‘indahuu min ni’matin tujzaa illab tighoo-a wajhi robbihil a’laa walasaufa yardhoo

Artinya :
“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), demi siang apabila terang benderang, demi penciptaan laki-laki dan perempuan; sungguh, usahamu memang beraneka macam; Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga) maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah) serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan). Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa. Sesungguhnya Kamilah yang memberi petunjuk, dan sesungguhnya milik Kamilah akhirat dan dunia itu. Maka Aku memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala, yang hanya dimasuki oleh orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Dan akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (dirinya), dan tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi Dan niscaya kelak dia akan mendapat kesenangan (yang sempurna).” (QS Al-Lail: 1-21)

24. Surah Asy Syarh

اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَۙ.وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَۙ.الَّذِيْٓ اَنْقَضَ ظَهْرَكَۙ.وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَۗ.فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ.اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ.

a lam nasyraḥ laka ṣadrak. wa waḍa'nā 'angka wizrak. allażī angqaḍa ẓahrak. wa rafa'nā laka żikrak. fa inna ma'al-'usri yusrā. inna ma'al-'usri yusrā. fa iżā faragta fanṣab. wa ilā rabbika fargab.

Artinya :
“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)? dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu, yang memberatkan punggungmu, dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu. Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”. (QS Asy Syarh: 1-8)

25. Al-Balad

لَآ أُقْسِمُ بِهٰذَا الْبَلَدوَأَنْتَ حِلٌّۢ بِهٰذَا الْبَلَدوَوَالِدٍ وَمَا وَلَدلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسٰنَ فِى كَبَدأَيَحْسَبُ أَنْ لَّنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدِيَقُوْلُ أَهْلَكْتُ 

مَالًا لُّبَدًاأَيَحْسَبُ أَنْ لَّمْ يَرَهٗ أَحَدٌأَلَمْ نَجْعَل لَّهٗ عَيْنَيْنِوَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِوَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِفَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَوَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا الْعَقَبَةُفَكُّ 

رَقَبَةٍأَوْ إِطْعٰمٌ فِى يَوْمٍ ذِى مَسْغَبَةٍيَتِيْمًا ذَا مَقْرَبَةٍأَوْ مِسْكِيْنًا ذَا مَتْرَبَةٍثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا۟ وَتَوَاصَوْا۟ بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا۟

 بِالْمَرْحَمَةِأُو۟لٰٓئِكَ أَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِوَالَّذِيْنَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايٰتِنَا هُمْ أَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِعَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌۢ

laa uqsimu bihaadzal balad wa anta hillum bihaazdal balad wawaalidiw wamaa walad laqod kholaqnal ingsaana fii kabad ayahsabu allay yaqdiro ‘alaihi ahad yaquulu ahlaktu maalall lubadaa ayahsabu allam yarohuu ahad alam naj’al lahuu ‘ainaiin walisaanaw wasyafataiin wahadainaahun najdaiin falaq tahamal ‘aqobah wamaa adrooka mal ‘aqobah fakku roqobah aw ith’aamung fii yauming dzii masghobah yatiimang dzaa maqrobah aw miskiinang dzaa matrobah tsumma kaana minal ladziina aamanuu watawaashoubis shobri watawaashoubil marhamah ulaa-ika ash-haabul maimanah walladziina kafaruu bi-aayaatinaa hum ash-haabul masy-amah ‘alaihim naarum mu’shodah

Artinya :
 “Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah), dan engkau (Muhammad), bertempat di negeri (Mekah) ini, an demi (pertalian) bapak dan anaknya. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.” Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata dan lidah dan sepasang bibir? Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan), Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? (Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya), atau memberi makanan pada hari terjadi kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat. (QS Al-Balad 1-20)

BACA JUGA:

Surat Ayat Kursi : Manfaat / Keutamaan Ayat Kursi, Tulisan Arab, Tulisan Latin, Dan Terjemahan


26.Surah Al-Fajr


وَٱلْفَجْرِوَلَيَالٍ عَشْرٍوَٱلشَّفْعِ وَٱلْوَتْرِوَٱلَّيْلِ إِذَا يَسْرِهَلْ فِى ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِى حِجْرٍأَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍإِرَمَ ذَاتِ ٱلْعِمَادِٱلَّتِى

 لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى ٱلْبِلَـٰدِوَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُوا۟ ٱلصَّخْرَ بِٱلْوَادِوَفِرْعَوْنَ ذِى ٱلْأَوْتَادِٱلَّذِينَ طَغَوْا۟ فِى ٱلْبِلَـٰدِفَأَكْثَرُوا۟ فِيهَا

 ٱلْفَسَادَفَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍإِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِفَأَمَّا ٱلْإِنسَـٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ

 أَكْرَمَنِوَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَـٰنَنِكَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ ٱلْيَتِيمَوَلَا تَحَـٰٓضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ

  ٱلْمِسْكِينِوَتَأْكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّاوَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّاكَلَّآ إِذَا دُكَّتِ ٱلْأَرْضُ دَكًّا دَكًّاوَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلْمَلَكُ صَفًّا صَفًّاوَجِا۟ىٓءَ

 يَوْمَئِذٍۭ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ ٱلْإِنسَـٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكْرَىٰيَقُولُ يَـٰلَيْتَنِى قَدَّمْتُ لِحَيَاتِىفَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٌوَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ 

أَحَدٌيَـٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًفَٱدْخُلِى فِى عِبَـٰدِىوَٱدْخُلِى جَنَّتِى

wal fajr walayaalin ‘asyr wasy syaf’i wal watr wal laili idzaa yasr hal fii dzaalika qosamul lidzii hijr alam taro kaifa fa’ala robbuka bi’aad iroma dzaatil ‘imaad allatii lam yukhlaq mitsluhaa fil bilaad watsamuudal ladziina jaabus shokhro bil waad wa fir’auna dzil autaad alladziina thoghau fil bilaad fa-aktsaruu fiihal fasaad fashobba ‘alaihim robbuka sautho ‘adzaab inna robbaka labil mirshood fa-ammal ingsaanu idzaa mabtalaahu robbuhuu fa-akromahuu wana”amahuu fayakuulu robbii akroman wa-ammaa idzaa mabtalaahu faqodaro ‘alaihi rizqohuu fayaquulu robbii ahaanan kallaa bal laa tukrimuunal yatiim wala tahaadhdhuuna ‘ala tho’aamil miskiin wata’kuluunat turootsa aklal lammaa watuhibbuunal maala hubbang jammaa kallaa idzaa dukkatil ardhu dakkang dakkaa wajaa-a robbuka wal malaku shoffang shoffaa wajii-a yauma-idzim bijahannama yauma-idziy yatadzakkarul ingsaanu wa annaa lahudz dzikroo yaquulu yaalaitanii qoddamtu lihayaatii fayauma-idzil laa yu’adzdzibu ‘adzaabahuu ahad walaa yuutsiqu wa tsaaqohuu ahad yaa ayyatuhan nafsul muthma-innah irji’ii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah fadhulii fii ‘ibaadii wadhulii jannatii

Artinya:

 “Demi fajar demi malam yang sepuluh, demi yang genap dan yang ganjil, demi malam apabila berlalu. Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?
alam taro kaifa fa’ala robbuka bi’aad Tidakkah engkau (Muhammad) memerhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Ad?, (yaitu) penduduk Iram (ibu kota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan terhadap (kaum) Samud yang memotong batu-batu besar di lembah dan (terhadap) Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar), yang berbuat sewenang-sewenang dalam negeri, lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan cemeti azab kepada mereka, sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi. Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.”  Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.”  Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram), dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan. Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan), dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris, dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.” Maka pada hari itu tidak ada seorangpun yang mengazab seperti azab-Nya (yang adil), dan tidak ada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya. Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.  Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku.” (QS Al-Fajr 1-30)



27. Surat Al-Ghasiyah

هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلْغَـٰشِيَةِ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَـٰشِعَةٌ عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةً تُسْقَىٰ مِنْ عَيْنٍ ءَانِيَةٍ لَّيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِن

 ضَرِيعٍ لَّا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِى مِن جُوعٍ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاعِمَةٌ لِّسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ فِى جَنَّةٍ عَالِيَةٍ لَّا تَسْمَعُ فِيهَا لَـٰغِيَةً فِيهَا عَيْنٌ

 جَارِيَةٌ فِيهَا سُرُرٌ مَّرْفُوعَةٌ وَأَكْوَابٌ مَّوْضُوعَة وَنَمَارِقُ مَصْفُوفَةٌ وَزَرَابِىُّ مَبْثُوثَةٌ أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى

 ٱلسَّمَآءِ كَيْفَ رُفِعَتْ وَإِلَى ٱلْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ وَإِلَى ٱلْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ فَذَكِّرْ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٌ لَّسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ إِلَّا 

مَن تَوَلَّىٰ وَكَفَرَ فَيُعَذِّبُهُ ٱللَّهُ ٱلْعَذَابَ ٱلْأَكْبَرَ إِنَّ إِلَيْنَآ إِيَابَهُمْ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُم
 

hal atāka ḥadīṡul-gāsyiyah wujụhuy yauma`iżin khāsyi'ah nāṣibah nāran ḥāmiyah tusqā min 'ainin āniyah lahum ṭa'āmun illā min ḍarī' ā yusminu wa lā yugnī min jụ' wujụhuy yauma`iżin nā'imah  rāḍiyah fī jannatin 'āliyah lā tasma'u fīhā lāgiyah īhā 'ainun jāriyah fīhā sururum marfụ'ah wa akwābum mauḍụ'ah namāriqu maṣfụfah wa zarābiyyu mabṡụṡah a fa lā yanẓurụna ilal-ibili kaifa khuliqat wa ilas-samā`i kaifa rufi'at wa ilal-jibāli kaifa wa ilal-arḍi kaifa suṭiḥat fa żakkir, innamā anta mużakkir lasta 'alaihim bimuṣaiṭir  man tawallā wa kafar  yu'ażżibuhullāhul-'ażābal-akbarmaka  inna ilainā iyābahum inna 'alainā ḥisābahum


Artinya :

“Sudahkah sampai kepadamu berita tentang (hari Kiamat)? Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk terhina, (karena) bekerja keras lagi kepayahan, mereka memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas. Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar.  Pada hari itu banyak (pula) wajah yang berseri-seri, merasa senang karena usahanya (sendiri),  (mereka) dalam surga yang tinggi,di sana (kamu) tidak mendengar perkataan yang tidak berguna. Disana ada mata air yang mengalir. Di sana ada dipan-dipan yang ditinggikan,dan gelas-gelas yang tersedia (di dekatnya),dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, permadani-permadani yang terhampar. tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan? langit, bagaimana ditinggikan? gunung-gunung bagaimana ditegakkan?  bumi bagaimana dihamparkan? berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,, kecuali (jika ada) orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. kepada Kamilah mereka kembali, sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka.” (QS AL-Gasyiyah: 1-26)

28. Surat Al-A’la

سَبِّحِ ٱسْمَ رَبِّكَ ٱلْأَعْلَى ٱلَّذِى خَلَقَ فَسَوَّىٰ وَٱلَّذِى قَدَّرَ فَهَدَىٰ وَٱلَّذِىٓ أَخْرَجَ ٱلْمَرْعَىٰ فَجَعَلَهُۥ غُثَآءً أَحْوَىٰ سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰٓ

 إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۚ إِنَّهُۥ يَعْلَمُ ٱلْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكْرَىٰ سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَىٰ وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلْأَشْقَى

 ٱلَّذِى يَصْلَى ٱلنَّارَ ٱلْكُبْرَىٰ ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا

 وَٱلْـَٔاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ إِنَّ هَـٰذَا لَفِى ٱلصُّحُفِ ٱلْأُولَىٰ صُحُفِ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَ

sabbiḥisma rabbikal-a’lā allażī khalaqa fa sawwā wallażī qaddara fa hadā wallażī akhrajal-mar’ā fa ja’alahụ guṡā`an aḥwā sanuqri`uka fa lā tansā  illā mā syā`allāh, innahụ ya’lamul-jahra wa mā yakhfā wa nuyassiruka lil-yusrā fa żakkir in nafa’atiż-żikrā sayażżakkaru may yakhsyā wa yatajannabuhal-asyqā  allażī yaṣlan-nāral-kubrā  ṡumma lā yamụtu fīhā wa lā yaḥyā  qad aflaḥa man tazakkā  wa żakarasma rabbihī fa ṣallā ا bal tu`ṡirụnal-ḥayātad-dun-yā wal-ākhiratu khairuw wa abqā  inna hāżā lafiṣ-ṣuḥufil-ụlā ṣuḥufi ibrāhīma wa mụsā

Artinya :
“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi, yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman. Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah, oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat, orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran,. dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka). Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (QS Al-A’ala: 1-19)

29. Surat Ath-Thariq

وَٱلسَّمَآءِ وَٱلطَّارِقِ وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلطَّارِقُ ٱلنَّجْمُ ٱلثَّاقِبُ إِن كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَـٰنُ مِمَّ خُلِقَ خُلِقَ مِن مَّآءٍ

 دَافِقٍ يَخْرُجُ مِنۢ بَيْنِ ٱلصُّلْبِ وَٱلتَّرَآئِبِ إِنَّهُۥ عَلَىٰ رَجْعِهِۦ لَقَادِرٌ يَوْمَ تُبْلَى ٱلسَّرَآئِرُ فَمَا لَهُۥ مِن قُوَّةٍ وَلَا نَاصِرٍ وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ

 ٱلرَّجْعِ وَٱلْأَرْضِ ذَاتِ ٱلصَّدْعِ إِنَّهُۥ لَقَوْلٌ فَصْلٌ وَمَا هُوَ بِٱلْهَزْلِ إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا وَأَكِيدُ كَيْدًا فَمَهِّلِ ٱلْكَـٰفِرِينَ أَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًۢا
 

was-samā`i waṭ-ṭāriq wa mā adrāka maṭ-ṭāriq an-najmuṡ-ṡāqib ing kullu nafsil lammā ‘alaihā ḥāfiẓ falyanẓuril-insānu mimma khuliq khuliqa mim mā`in dāfiq yakhruju mim bainiṣ-ṣulbi wat-tarā`ib innahụ ‘alā raj’ihī laqādir yauma tublas-sarā`ir fa mā lahụ ming quwwatiw wa lā nāṣir was-samā`i żātir-raj’ wal-arḍi żātiṣ-ṣad’ innahụ laqaulun faṣl wa mā huwa bil-hazl innahum yakīdụna kaidā wa akīdu kaidā fa mahhilil-kāfirīna am-hil-hum ruwaidā

Artinya :
“Demi langit dan yang datang pada malam hari, tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?. (yaitu) bintang yang cahayanya menembus, tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya. Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari dinampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatanpun dan tidak (pula) seorang penolong. Demi langit yang mengandung hujan dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan, sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau. Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya. Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhlah mereka itu.” (QS Ath Thariq: 1-17)

30. Surat Al-Buruj

وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلْبُرُوجِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْمَوْعُودِ وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ قُتِلَ أَصْحَـٰبُ ٱلْأُخْدُودِ ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلْوَقُودِ إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ وَهُمْ

 عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ وَمَا نَقَمُوا۟ مِنْهُمْ إِلَّآ أَن يُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُوا۟ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا۟ فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ ٱلْحَرِيقِ إِنَّ

 ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ لَهُمْ جَنَّـٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْكَبِيرُ إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ إِنَّهُۥ هُوَ

 يُبْدِئُ وَيُعِيدُ وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلْوَدُودُ ذُو ٱلْعَرْشِ ٱلْمَجِيدُ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلْجُنُودِ فِرْعَوْنَ وَثَمُودَ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟

 فِى تَكْذِيبٍ وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطٌۢ بَلْ هُوَ قُرْءَانٌ مَّجِيدٌ فِى لَوْحٍ مَّحْفُوظٍۭ

was-samā`i żātil-burụj wal-yaumil-mau’ụd wa syāhidiw wa masy-hụd qutila aṣ-ḥābul-ukhdụd an-nāri żātil-waqụd iż hum ‘alaihā qu’ụd wa hum ‘alā mā yaf’alụna bil-mu`minīna syuhụd wa mā naqamụ min-hum illā ay yu`minụ billāhil-‘azīzil-ḥamīd allażī lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍ, wallāhu ‘alā kulli syai`in syahīd innallażīna fatanul-mu`minīna wal-mu`mināti ṡumma lam yatụbụ fa lahum ‘ażābu jahannama wa lahum ‘ażābul-ḥarīq innallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum jannātun tajrī min taḥtihal-an-hār, żālikal-fauzul-kabīr inna baṭsya rabbika lasyadīd innahụ huwa yubdi`u wa yu’īd wa huwal-gafụrul-wadụd żul-‘arsyil-majīd fa”ālul limā yurīd hal atāka ḥadīṡul-junụd fir’auna wa ṡamụd balillażīna kafarụ fī takżīb wallāhu miw warā`ihim muḥīṭ bal huwa qur`ānum majīd fī lauḥim maḥfụẓ

Artinya :
“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya,. sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. إSesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir’aun dan (kaum) Tsamud? Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (QS Al-Buruj:1-22)


31. Al-Insyiqaq

إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتْ وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ وَإِذَا ٱلْأَرْضُ مُدَّتْ وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَـٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَـٰقِيهِ فَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا وَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهْرِهِۦ فَسَوْفَ يَدْعُوا۟ ثُبُورًا وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا إِنَّهُۥ كَانَ فِىٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا إِنَّهُۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ بَلَىٰٓ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرًا فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلشَّفَقِ وَٱلَّيْلِ وَمَا وَسَقَ وَٱلْقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ ٱلْقُرْءَانُ لَا يَسْجُدُونَ ۩ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُكَذِّبُونَ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍۭ

iżas-samā`unsyaqqat wa ażinat lirabbihā wa ḥuqqat wa iżal-arḍu muddat wa alqat mā fīhā wa takhallat wa ażinat lirabbihā wa ḥuqqat yā ayyuhal-insānu innaka kādiḥun ilā rabbika kad-ḥan fa mulāqīh fa ammā man ụtiya kitābahụ biyamīnih fa saufa yuḥāsabu ḥisābay yasīrā wa yangqalibu ilā ahlihī masrụrā wa ammā man ụtiya kitābahụ warā`a ẓahrih fa saufa yad’ụ ṡubụrā wa yaṣlā sa’īrā innahụ kāna fī ahlihī masrụrā innahụ ẓanna al lay yaḥụr balā inna rabbahụ kāna bihī baṣīrā fa lā uqsimu bisy-syafaq wal-laili wa mā wasaq wal-qamari iżattasaq latarkabunna ṭabaqan ‘an ṭabaq fa mā lahum lā yu`minụn wa iżā quri`a ‘alaihimul-qur`ānu lā yasjudụn balillażīna kafarụ yukażżibụn wallāhu a’lamu bimā yụ’ụn fa basysyir-hum bi’ażābin alīm illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum ajrun gairu mamnụn

Artinya :
“Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh, dan apabila bumi diratakan, dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya. Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja, dan dengan malam dan apa yang diselubunginya, dan dengan bulan apabila jadi purnama,. sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan), Mengapa mereka tidak mau beriman? dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya).. Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka).. Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih, tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (QS Al-Insyiqaq: 1-25)


32. Surat Al-Mutaffifin

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُون وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ أَلَا يَظُنُّ أُو۟لَـٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ لِيَوْمٍ عَظِيمٍ يَوْمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ كَلَّآ إِنَّ كِتَـٰبَ ٱلْفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍ وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا سِجِّينٌ كِتَـٰبٌ مَّرْقُومٌ وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ءَايَـٰتُنَا قَالَ أَسَـٰطِيرُ ٱلْأَوَّلِينَ كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُوا۟ ٱلْجَحِيمِ ثُمَّ يُقَالُ هَـٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ كَلَّآ إِنَّ كِتَـٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَ وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا عِلِّيُّونَ كِتَـٰبٌ مَّرْقُومٌ يَشْهَدُهُ ٱلْمُقَرَّبُونَ إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ تَعْرِفُ فِى وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ ٱلنَّعِيمِ يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ خِتَـٰمُهُۥ مِسْكٌ ۚ وَفِى ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ ٱلْمُتَنَـٰفِسُونَ وَمِزَاجُهُۥ مِن تَسْنِيمٍ عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا ٱلْمُقَرَّبُونَ إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجْرَمُوا۟ كَانُوا۟ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يَضْحَكُونَ وَإِذَا مَرُّوا۟ بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓا۟ إِلَىٰٓ أَهْلِهِمُ ٱنقَلَبُوا۟ فَكِهِينَ وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّ هَـٰٓؤُلَآءِ لَضَآلُّونَ وَمَآ أُرْسِلُوا۟ عَلَيْهِمْ حَـٰفِظِينَ فَٱلْيَوْمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنَ ٱلْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ هَلْ ثُوِّبَ ٱلْكُفَّارُ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ

wailul lil-muṭaffifīn allażīna iżaktālụ ‘alan-nāsi yastaufụn wa iżā kālụhum aw wazanụhum yukhsirụn alā yaẓunnu ulā`ika annahum mab’ụṡụn liyaumin ‘aẓīm yauma yaqụmun-nāsu lirabbil-‘ālamīn kallā inna kitābal-fujjāri lafī sijjīn wa mā adrāka mā sijjīn kitābum marqụm yauma`iżil lil-mukażżibīn allażīna yukażżibụna biyaumid-dīn wa mā yukażżibu bihī illā kullu mu’tadin aṡīm iżā tutlā ‘alaihi āyātunā qāla asāṭīrul-awwalīn  kallā bal rāna ‘alā qulụbihim mā kānụ yaksibụn kallā innahum ‘ar rabbihim yauma`iżil lamaḥjụbụn ṡumma innahum laṣālul-jaḥīm ṡumma yuqālu hāżallażī kuntum bihī tukażżibụn kallā inna kitābal-abrāri lafī ‘illiyyīn wa mā adrāka mā ‘illiyyụn kitābum marqụm yasy-haduhul-muqarrabụn innal-abrāra lafī na’īm ‘alal-arā`iki yanẓurụn ta’rifu fī wujụhihim naḍratan na’īm yusqauna mir raḥīqim makhtụm khitāmuhụ misk, wa fī żālika falyatanāfasil-mutanāfisụn  wa mizājuhụ min tasnīm ‘ainay yasyrabu bihal-muqarrabụninnallażīna ajramụ kānụ minallażīna āmanụ yaḍ-ḥakụn wa iżā marrụ bihim yatagāmazụn wa iżangqalabū ilā ahlihimungqalabụ fakihīn wa iżā ra`auhum qālū inna hā`ulā`i laḍāllụn wa mā ursilụ ‘alaihim ḥāfiẓīn fal-yaumallażīna āmanụ minal-kuffāri yaḍ-ḥakụn alal-arā`iki yanẓurụn hal ṡuwwibal-kuffāru mā kānụ yaf’alụn


Artinya :

 “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,. pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.. Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”. Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin. Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis,. yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Al-Muthafifin:1-36)


33. Surah An-Infitar


إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنفَطَرَتْ وَإِذَا ٱلْكَوَاكِبُ ٱنتَثَرَتْ وَإِذَا ٱلْبِحَارُ فُجِّرَتْ وَإِذَا ٱلْقُبُورُ بُعْثِرَتْ عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَـٰنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلْكَرِيمِ ٱلَّذِى خَلَقَكَ فَسَوَّىٰكَ فَعَدَلَكَ فِىٓ أَىِّ صُورَةٍ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِٱلدِّينِ وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَـٰفِظِينَ كِرَامًا كَـٰتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ وَإِنَّ ٱلْفُجَّارَ لَفِى جَحِيمٍ يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ ٱلدِّينِ وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَآئِبِينَ وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا يَوْمُ ٱلدِّينِ ثُمَّ مَآ أَدْرَىٰكَ مَا يَوْمُ ٱلدِّينِ يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْـًٔا ۖ وَٱلْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّهِ

iżas-samā`unfaṭarat wa iżal-kawākibuntaṡarat wa iżal-biḥāru fujjirat wa iżal-qubụru bu’ṡirat ‘alimat nafsum mā qaddamat wa akhkharat yā ayyuhal-insānu mā garraka birabbikal-karīm allażī khalaqaka fa sawwāka fa ‘adalak fī ayyi ṣụratim mā syā`a rakkabak kallā bal tukażżibụna bid-dīn wa inna ‘alaikum laḥāfiẓīn kirāmang kātibīn ya’lamụna mā taf’alụn innal-abrāra lafī na’īm wa innal-fujjāra lafī jaḥīm yaṣlaunahā yaumad-dīn wa mā hum ‘an-hā bigā`ibīn wa mā adrāka mā yaumud-dīn ṡumma mā adrāka mā yaumud-dīn yauma lā tamliku nafsul linafsin syai`ā, wal-amru yauma`iżil lillāh

Artinya :
“Apabila langit terbelah, apabila bintang-bintang jatuh berserakan, وَإdan apabila lautan menjadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu. Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?. Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (QS Al-Infithar: 1-19)


34. Surah At-Takwir

إِذَا ٱلشَّمْسُ كُوِّرَتْ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتْ وَإِذَا ٱلْجِبَالُ سُيِّرَتْ وَإِذَا ٱلْعِشَارُ عُطِّلَتْ وَإِذَا ٱلْوُحُوشُ حُشِرَتْ وَإِذَا ٱلْبِحَارُ سُجِّرَتْ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتْ وَإِذَا ٱلْمَوْءُۥدَةُ سُئِلَتْ بِأَىِّ ذَنۢبٍ قُتِلَتْ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ نُشِرَتْ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتْ وَإِذَا ٱلْجَحِيمُ سُعِّرَتْ وَإِذَا ٱلْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ أَحْضَرَتْ فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ ٱلْجَوَارِ ٱلْكُنَّسِ وَٱلَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ وَٱلصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ إِنَّهُۥ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلْعَرْشِ مَكِينٍ مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ وَلَقَدْ رَءَاهُ بِٱلْأُفُقِ ٱلْمُبِينِ وَمَا هُوَ عَلَى ٱلْغَيْبِ بِضَنِينٍ وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَـٰنٍ رَّجِيمٍ فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَـٰلَمِينَ لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

iżasy-syamsu kuwwirat wa iżan-nujụmungkadarat wa iżal-jibālu suyyirat wa iżal-‘isyāru ‘uṭṭilat wa iżal-wuḥụsyu ḥusyirat wa iżal-biḥāru sujjirat wa iżan-nufụsu zuwwijat wa iżal-mau`ụdatu su`ilat bi`ayyi żambing qutilat wa iżaṣ-ṣuḥufu nusyirat wa iżas-samā`u kusyiṭat wa iżal-jaḥīmu su”irat wa iżal-jannatu uzlifat ‘alimat nafsum mā aḥḍarat fa lā uqsimu bil-khunnas al-jawāril-kunnas wal-laili iżā ‘as’as waṣ-ṣub-ḥi iżā tanaffas innahụ laqaulu rasụling karīm żī quwwatin ‘inda żil-‘arsyi makīn muṭā’in ṡamma amīn wa mā ṣāḥibukum bimajnụn wa laqad ra`āhu bil-ufuqil-mubīn wa mā huwa ‘alal-gaibi biḍanīn wa mā huwa biqauli syaiṭānir rajīm fa aina taż-habụn in huwa illā żikrul lil-‘ālamīn liman syā`a mingkum ay yastaqīm wa mā tasyā`ụna illā ay yasyā`allāhu rabbul-‘ālamīn
Artinya “Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan) dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh) dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh,. dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya. Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing, sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk, ke manakah kamu akan pergi? Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS At-Takwir: 1-29)

35. Surah Abasa


َبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ وَهُوَ يَخْشَىٰ فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّى كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍۭ بِأَيْدِى سَفَرَةٍ كِرَامٍۭ بَرَرَةٍ قُتِلَ ٱلْإِنسَـٰنُ مَآ أَكْفَرَهُۥ مِنْ أَىِّ شَىْءٍ خَلَقَهُۥ مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُۥ فَقَدَّرَهُۥ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقْبَرَهُۥ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَـٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّا ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّا فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّا وَعِنَبًا وَقَضْبًا وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا وَحَدَآئِقَ غُلْبًا وَفَـٰكِهَةً وَأَبًّا مَّتَـٰعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَـٰمِكُمْ فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ وَصَـٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ

‘abasa wa tawallā an jā`ahul-a’mā  wa mā yudrīka la’allahụ yazzakkā au yażżakkaru fa tanfa’ahuż-żikrā ammā manistagnā fa anta lahụ taṣaddā wa mā ‘alaika allā yazzakkā wa ammā man jā`aka wa huwa yakhsyā fa anta ‘an-hu talahhā kallā innahā tażkirah fa man syā`a żakarah fī ṣuḥufim mukarramah marfụ’atim muṭahharah bi`aidī safarah kirāmim bararah qutilal-insānu mā akfarah min ayyi syai`in khalaqah min nuṭfah, khalaqahụ fa qaddarah ṡummas-sabīla yassarah ṡumma amātahụ fa aqbarah ṡumma iżā syā`a ansyarah kallā lammā yaqḍi mā amarah falyanẓuril-insānu ilā ṭa’āmih annā ṣababnal-mā`a ṣabbā ṡumma syaqaqnal-arḍa syaqqā fa ambatnā fīhā ḥabbā wa ‘inabaw wa qaḍbā wa zaitụnaw wa nakhlā wa ḥadā`iqa gulbā wa fākihataw wa abbā matā’al lakum wa li`an’āmikum fa iżā jā`atiṣ-ṣākhkhah yauma yafirrul-mar`u min akhīh wa ummihī wa abīh wa ṣāḥibatihī wa banīh likullimri`im min-hum yauma`iżin sya`nuy yugnīh wujụhuy yauma`iżim musfirah ḍāḥikatum mustabsyirah wa wujụhuy yauma`iżin ‘alaihā gabarah tarhaquhā ulā`ika humul-kafaratul-fajara
h

Artinya :
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), أَatau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan,. yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya? Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya. kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma, و. kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, dan bergembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS Abasa: 1-42)

36. An-Nazi’at

وَٱلنَّـٰزِعَـٰتِ غَرْقًا وَٱلنَّـٰشِطَـٰتِ نَشْطًا وَٱلسَّـٰبِحَـٰتِ سَبْحًا فَٱلسَّـٰبِقَـٰتِ سَبْقًا فَٱلْمُدَبِّرَٰتِ أَمْرًا يَوْمَ تَرْجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ تَتْبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ أَبْصَـٰرُهَا خَـٰشِعَةٌ يَقُولُونَ أَءِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِى ٱلْحَافِرَةِ أَءِذَا كُنَّا عِظَـٰمًا نَّخِرَةً قَالُوا۟ تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ فَإِنَّمَا هِىَ زَجْرَةٌ وَٰحِدَةٌ  فَإِذَا هُم بِٱلسَّاهِرَةِ هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ إِذْ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلْوَادِ ٱلْمُقَدَّسِ طُوًى ٱذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ فَقُلْ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ وَأَهْدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخْشَىٰ فَأَرَىٰهُ ٱلْـَٔايَةَ ٱلْكُبْرَىٰ فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَىٰ فَحَشَرَ فَنَادَىٰ فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلْأَعْلَىٰ فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلْـَٔاخِرَةِ وَٱلْأُولَىٰٓ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَن يَخْشَىٰٓ ءَأَنتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ ٱلسَّمَآءُ ۚ بَنَىٰهَا رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّىٰهَا وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَىٰهَا وَٱلْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ أَخْرَجَ مِنْهَا مَآءَهَا وَمَرْعَىٰهَا وَٱلْجِبَالَ أَرْسَىٰهَا مَتَـٰعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَـٰمِكُمْ فَإِذَا جَآءَتِ ٱلطَّآمَّةُ ٱلْكُبْرَىٰ يَوْمَ يَتَذَكَّرُ ٱلْإِنسَـٰنُ مَا سَعَىٰ وَبُرِّزَتِ ٱلْجَحِيمُ لِمَن يَرَىٰ فَأَمَّا مَن طَغَىٰ وَءَاثَرَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا فَإِنَّ ٱلْجَحِيمَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَىٰهَا فِيمَ أَنتَ مِن ذِكْرَىٰهَآ إِلَىٰ رَبِّكَ مُنتَهَىٰهَآ إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخْشَىٰهَا كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوٓا۟ إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَىٰهَا

wan-nāzi’āti garqā wan-nāsyiṭāti nasyṭā was-sābiḥāti sab-ḥā fas-sābiqāti sabqā fal-mudabbirāti amrā yauma tarjufur-rājifah tatba’uhar-rādifah qulụbuy yauma`iżiw wājifah abṣāruhā khāsyi’ah yaqụlụna a innā lamardụdụna fil-ḥāfirah a iżā kunnā ‘iẓāman nakhirah qālụ tilka iżang karratun khāsirah fa innamā hiya zajratuw wāḥidah fa iżā hum bis-sāhirah hal atāka ḥadīṡu mụsā iż nādāhu rabbuhụ bil-wādil-muqaddasi ṭuwā iż-hab ilā fir’auna innahụ ṭagā fa qul hal laka ilā an tazakkā wa ahdiyaka ilā rabbika fa takhsyā fa arāhul-āyatal-kubrā  fa każżaba wa ‘ṡumma adbara yas’ā  fa ḥasyara fa nādā fa qāla ana rabbukumul-a’lā fa akhażahullāhu nakālal-ākhirati wal-ụlā inna fī żālika la’ibratal limay yakhsyā a antum asyaddu khalqan amis-samā`, banāhā rafa’a samkahā fa sawwāhā wa agṭasya lailahā wa akhraja ḍuḥāhā wal-arḍa ba’da żālika daḥāhā akhraja min-hā mā`ahā wa mar’āhā wal-jibāla arsāhā matā’al lakum wa li`an’āmikum fa iżā jā`atiṭ-ṭāmmatul-kubrā yauma yatażakkarul-insānu mā sa’ā wa burrizatil-jaḥīmu limay yarā fa ammā man ṭagā wa āṡaral-ḥayātad-dun-yā fa innal-jaḥīma hiyal-ma`wā wa ammā man khāfa maqāma rabbihī wa nahan-nafsa ‘anil-hawā fa innal-jannata hiyal-ma`wā yas`alụnaka ‘anis-sā’ati ayyāna mursāhā fīma anta min żikrāhā ilā rabbika muntahāhā innamā anta munżiru may yakhsyāhā ka`annahum yauma yaraunahā lam yalbaṡū illā ‘asyiyyatan au ḍuḥāhā

Artinya :
“Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, Pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?” Mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan”. Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. Sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Thuwa; “Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar.. Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya). kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).  (Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya? Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit) Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS An-Naziat: 1-46)

BACA JUGA :

Shalat Istikharah: Niat, Bacaan Doa, dan Tata Cara Mohon Petunjuk Jodoh dan Keputusan Sulit Lainnya

12 Jenis Puasa Termasuk Puasa Ramadan Dalam Agama Islam

Mengenal 5 Rukun Islam dan 6 Rukun Iman Serta Artinya

 37. Surat An-Nabaa

عَمَّ يَتَسَآءَلُونَ عَنِ ٱلنَّبَإِ ٱلْعَظِيمِ ٱلَّذِى هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ أَلَمْ نَجْعَلِ ٱلْأَرْضَ مِهَـٰدًا وَٱلْجِبَالَ أَوْتَادًا وَخَلَقْنَـٰكُمْ أَزْوَٰجًا وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ لِبَاسًا وَجَعَلْنَا ٱلنَّهَارَ مَعَاشًا وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا وَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلْمُعْصِرَٰتِ مَآءً ثَجَّاجًا لِّنُخْرِجَ بِهِۦ حَبًّا وَنَبَاتًا وَجَنَّـٰتٍ أَلْفَافًا إِنَّ يَوْمَ ٱلْفَصْلِ كَانَ مِيقَـٰتًا يَوْمَ يُنفَخُ فِى ٱلصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا وَفُتِحَتِ ٱلسَّمَآءُ فَكَانَتْ أَبْوَٰبًا وَسُيِّرَتِ ٱلْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا لِّلطَّـٰغِينَ مَـَٔابًا لَّـٰبِثِينَ فِيهَآ أَحْقَابًا لَّا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا جَزَآءً وِفَاقًا إِنَّهُمْ كَانُوا۟ لَا يَرْجُونَ حِسَابًا وَكَذَّبُوا۟ بِـَٔايَـٰتِنَا كِذَّابًا وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَـٰهُ كِتَـٰبًا فَذُوقُوا۟ فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا حَدَآئِقَ وَأَعْنَـٰبًا وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا وَكَأْسًا دِهَاقًا لَّا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّٰبًا جَزَآءً مِّن رَّبِّكَ عَطَآءً حِسَابًا رَّبِّ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ٱلرَّحْمَـٰنِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِنْهُ خِطَابًا يَوْمَ يَقُومُ ٱلرُّوحُ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ صَفًّا ۖ لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحْمَـٰنُ وَقَالَ صَوَابًا ذَٰلِكَ ٱلْيَوْمُ ٱلْحَقُّ ۖ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ مَـَٔابًا إِنَّآ أَنذَرْنَـٰكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنظُرُ ٱلْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ ٱلْكَافِرُ يَـٰلَيْتَنِى كُنتُ تُرَٰبًۢا

amma yatasā`alụn ‘anin-naba`il-‘aẓīm allażī hum fīhi mukhtalifụn kallā saya’lamụn ṡumma kallā saya’lamụn a lam naj’alil-arḍa mihādā wal-jibāla autādā wa khalaqnākum azwājā wa ja’alnā naumakum subātā wa ja’alnal-laila libāsā wa ja’alnan-nahāra ma’āsyā wa banainā fauqakum sab’an syidādā wa ja’alnā sirājaw wahhājā wa anzalnā minal-mu’ṣirāti mā`an ṡajjājā linukhrija bihī ḥabbaw wa nabātā wa jannātin alfāfā inna yaumal-faṣli kāna mīqātā yauma yunfakhu fiṣ-ṣụri fa ta`tụna afwājā wa futiḥatis-samā`u fa kānat abwābā wa suyyiratil-jibālu fa kānat sarābā inna jahannama kānat mirṣādā liṭ-ṭāgīna ma`ābā lābiṡīna fīhā aḥqābā lā yażụqụna fīhā bardaw wa lā syarābā illā ḥamīmaw wa gassāqā jazā`aw wifāqā innahum kānụ lā yarjụna ḥisābā wa każżabụ bi`āyātinā kiżżābā wa kulla syai`in aḥṣaināhu kitābā fa żụqụ fa lan nazīdakum illā ‘ażābā inna lil-muttaqīna mafāzā ḥadā`iqa wa a’nābā wa kawā’iba wa ka`san dihāqā lā yasma’ụna fīhā lagwaw wa lā kiżżābā jazā`am mir rabbika ‘aṭā`an ḥisābā rabbis-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumar-raḥmāni lā yamlikụna min-hu khiṭābā yauma yaqụmur-rụḥu wal-malā`ikatu ṣaffal lā yatakallamụna illā man ażina lahur-raḥmānu wa qāla ṣawābā żālikal-yaumul-ḥaqq, fa man syā`attakhaża ilā rabbihī ma`ābā innā anżarnākum ‘ażābang qarībay yauma yanẓurul-mar`u mā qaddamat yadāhu wa yaqụlul-kāfiru yā laitanī kuntu turābā


Artinya :
 “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui. Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?, dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat? Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok, dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu, dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia. Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,. selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pambalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya. Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta. Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak, Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”. (QS An-Nabaa: 1-40)