KAMPUNG EMPANG - KAMPUNG PERANAKAN ARAB DI BOGOR

#Tags

Kampung Empang di Bogor merupakan salah satu kawasan di Kota Bogor. Tempat ini gampang dicapai. Dari bundaran Bogor Trade Mall, kita ke arah Jalan Raden Saleh. Ujung jalan ini ialah persimpangan alun-alun Empang yang diikuti dengan pohon karet kebo yang besar serta teduh. Sangat dikenal sebagai kawasan yang banyak dihuni oleh keturunan Arab turunan Hadramaut, Yaman. Sehingga sering pula disebut kampung Arab.

Kampung Empang, banyak dikunjungi kaum muslim dari luar dan dalam Kota Bogor, karena adanya Masjid An Nur. Di lokasi mesjid ini ada makam salah seorang Habib terpenting, yakni Habib Abdullah Bin Mukhsin Alatas. Habib yang populer dengan nama Wali Qutub ini dipercayai untuk cucu turunan ke-36 Nabi Muhammad SAW.


Alun alun Empang
Alun alun Empang



Jika disebut sebagai kampung Arab, maka tidak berlebihan pula jika suasana timur tengah terasa sangat di kampung ini. Mudah sekali melihat menjumpai wajah dari Timur Tengah. Banyak penjual beberapa barang bau timur tengah, seperti  penjual peci,buku-buku agama, tasbih,  kaligrafi, minyak wangi, hingga oleh-oleh umroh dari tanah suci.


Rumah Tua Bergaya Betawi dari masa kolonial
Dari alun-alun, jika bergerak arah Jalan Lolongok di samping barat. Pas di samping kiri, ada rumah yang diprediksikan dibikin saat waktu kolonial Belanda. Rumah yang masih tetap tertangani itu punya pribadi hingga kita tidak dapat lihat sisi di rumah.



Masuk dalam Jalan Lolongok, kita dapat mendapatkan rumah tua berpenampilan Betawi punya keluarga Assegaf.
"Rumah ini rumah warisan kakek-nenek kami. Saya tidak paham kapan dibuatnya. Ini rumah panggung. Semuanya dibuat dari papan atau kayu. Saat ini kolongnya telah ditutup serta lantai kayu dilapis karpet supaya kotoran dari bawah tidak masuk ke rumah," kata Novel Assegaf, tuan-rumah.

Assegaf menjelaskan, dahulu semua rumah di Jalan Lolongok ialah rumah panggung, baik dari kayu atau batu. Tempat tinggalnya besar dengan halaman luas. Saat ini tidak ada rumah panggung, serta banyak yang beralih benar-benar.

Bila Assegaf sedang berdagang CD/DVD lagu serta  ritual  keagamaan di muka tempat tinggalnya, dia dengan suka hati buka pintu rumah, membolehkan kita lihat ke dalam

"Kami kurang ada dana untuk menjaga rumah ini sebab biayanya mahal. Tetapi, akan kami rawat sedapatnya, supaya rumah ini lestari," katanya.

Rumah tua ada juga di Jalan Sedane, yang muara jalannya di alun-alun bagian utara. Rumah berpenampilan kombinasi Betawi serta kolonial itu punya keluarga Sehun Atuai. Di dalam rumah itu tercantum tanggal 1 Januari 1938, mengidentifikasi tahun pengerjaan rumah.

Rumah tua juga menjadi daya tarik di kawasan Empang, Bogor. Salah satunya adalah rumah milik keluarga Sehun Atuai. Tahun pembangunan rumah tertera di dinding rumah ini(KOMPAS/RATIH P SUDARSONO)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Arab Empang, Menapaki Perjalanan Si Rumah Panggung", https://travel.kompas.com/read/2016/05/19/220900527/Arab.Empang.Menapaki.Perjalanan.Si.Rumah.Panggung?page=all.
umah tua juga menjadi daya tarik di kawasan Empang, Bogor. Salah satunya adalah rumah milik keluarga Sehun Atuai. Tahun pembangunan rumah tertera di dinding rumah ini(KOMPAS/RATIH P SUDARSONO
Rumah tua juga menjadi daya tarik di kawasan Empang, Bogor. Salah satunya adalah rumah milik keluarga Sehun Atuai. Tahun pembangunan rumah tertera di dinding rumah ini(KOMPAS/RATIH P SUDARSONO

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Arab Empang, Menapaki Perjalanan Si Rumah Panggung", https://travel.kompas.com/read/2016/05/19/220900527/Arab.Empang.Menapaki.Perjalanan.Si.Rumah.Panggung?page=all.
Rumah tua juga menjadi daya tarik di kawasan Empang, Bogor. Salah satunya adalah rumah milik keluarga Sehun Atuai. Tahun pembangunan rumah tertera di dinding rumah ini(KOMPAS/RATIH P SUDARSONO)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Arab Empang, Menapaki Perjalanan Si Rumah Panggung", https://travel.kompas.com/read/2016/05/19/220900527/Arab.Empang.Menapaki.Perjalanan.Si.Rumah.Panggung?page=all.
Sumber Foto : travel(dot)kompas(dot)com


Rumah besar itu mempunyai enam kamar tidur, ditambah ruangan keluarga, dapur, serta paviliun. Kamar mandi terpisah dibagian belakang hingga tamu lelaki yang akan ke toilet tak perlu masuk ke rumah, tapi melalui halaman samping rumah. Ini salah satunya ciri rumah turunan Arab serta Betawi waktu lampau.

Bangunan atau rumah tua di Jalan Lolongok serta Jalan Sadane, rerata bercirikan arsitektur indisch serta tropis dengan atap genteng, jendela bovenlight, serta ventilasi udara panas.

Wisata religi

Teritori Empang populer dengan wisata religi. Ada dua masjid tua disana, yakni Masjid An Nur Tauhid di Jalan Lolongok serta Masjid Atthohiriyyah disamping barat alun-alun.

Masjid An Nur dibuat tahun 1815 oleh komune Arab atau Alaydrus. Masjid Attohiriyyah dibuat seputar 1817 oleh Raden Muhammad Thohir dari Cikunduk, Cianjur.

Masjid An Nur mempunyai penyemayaman keramat di bagian samping. Karenanya, tempat ini terkenal dengan panggilan masjid keramat. "Arsitektur masjid ini sama juga dengan masjid yang berada di Kampung Arab di Surabaya," kata Bagdja Nugraha, dari Bogor Heritage.

Masjid An Nur di Jalan Lolongok, Kampung Empang - Kota Bogor

Menurut H Usep, pengurus Masjid An Nur, sisi paling asli serta tua dari masjid itu seluas 10 x 10 mtr. dengan dua menara yang dahulunya terpisah dengan bangunan induk masjid.

"Sisi asli ini disebutkan potongan Masjid An Nur yang berada di kota Tharim di Yaman Selatan. Habib-habib di sini berasal atau turunan dari Yaman selatan. Sebab pertambahan umat yang tiba serta berziarah, masjid diperlebar. Tetapi sisi yang 10 x 10 mtr. itu, termasuk juga mimbar serta jendela-jendela patrinya, tetap asli. Tidak ada yang dirubah. Begitupun tempat tinggal habib pimpinan yang berada di belakang masjid," katanya.

Di kompleks makam di samping barat masjid, ada makam Habib Abdullah bin Muchsin Allatas yang diketahui untuk Habib Keramat Empang Bogor. Ada enam makam lain yang turunan atau saudara Habib Abdullah.

"Habib Abdullah bin Muchsin Allatas ialah habib pertama yang pimpin di sini. Penziarah makamnya dari beberapa wilayah serta kota, termasuk juga di luar negeri. Mereka berziarah sebab yakini akan mendapatkan karunia," kata Usep.


Asal Mula Nama "Kampung Empang"

Catatan tertulis pertama daerah yang disebut Kampung Empang ini tercatat dalam surat kabar pada tahun 1825. Ini bermula dari Mr. Cobben memasang iklan untuk menjual rumah dengan taman yang indah di Kampong Empang, Buitenzorg (lihat Bataviasche courant, 14-12-1825). Masih di koran yang sama, Mr. Cobben juga ingin menjual logement (losmen) beserta perabotannya dan kuda, kerbau serta pedatinya.


Nama kampung Empang diduga mengacu pada adanya empang  yang dibangun di sungai Cisadane. Lantas bagaimana munculnya empang?

Sketsa Michiel Ram en Cornelis Coops, 1701

Pada masa lampau, berdasarkan ekspedisi tahun, sketsa yang dibuat Michiel Ram en Cornelis Coops, perkampungan hanya terdapat di sisi timur sungai Ciliwung. Dengan kata lain, di area Bondongan, Empang dan Pancasan yang sekarang tidak ditemukan kampung , wilayah tersebut masih  hutan rimba.

Lalu dalam perkembangannya, berdasarkan lukisan Js Rach, 1771 sudah ditemukan lahan pertanian. Area yang lebih rendah dari sungai Cipankancilan dibentuk sawah dengan mengambil air dari sungai Cipakancilan dengan cara membendung. Bendungan ini, barangkali menjadi asal mula kata daerah Bondongan.


Area yang menjadi Empang/Bondongan (lukisan Js Rach, 1771)

Secara alamiah sungai Cipankancilan lebih tinggi dari sungai Cisadane di hulu. Air sungai Cipakancilan inilah yang mengairi persawahan di kampong Bondongan (air sungai Cisadane berada di bawah). Sejauh ini tidak ada kontribusi sungai Cisadane  terhadap pertanian di sekitar Bondongan dan Empang. Akan tetapi selisihnya makin rendah di hilir hingga aliran sungai Cipakancilan  bermuara ke sungai Cisadane (di Kampung Empang yang sekarang). Dengan kata lain air sungai Cipankancilan bermuara ke sungai Cisadane.

Pemerintah Hindia Belanda masa Gubernur Jendral Daendels dan pemerintah lokal (Bupati) mulai merencanakan perluasan sawah di Panaragan dan Kedong Badak. Selama ini area tersebut berada di ketinggian yang hanya sesuai dengan perkebunan lahan kering dan tidak memungkinkan untuk persawahan untuk menghasilkan beras lebih banyak. Lalu dibuat rencana pengalihan air sungai Cipakancilan tidak masuk ke sungai Cisadane tetapi dengan membuat kanal melalui Empang Atas dan Paledang. Kanal ini cukup dalam di sekitar Jembatan Merah yang sekarang (lihat Johannes Olivier dan K. van Hulst, 1835). Untuk menambah debut air yang melalui kanal baru ini sungai Cisadane dibendung. Air yang kini lebih tinggi di empang sungai diatur melalui peraturan yang dialirkan menuju kanal baru melalui muara sungai Cipankancilan. Empang dan kanal baru ini selesai pada tahun 1872. Pemakaian air dari bendungan Empang diatur kembali kemudian, dimana di Pasar Citayam dibagi dua, ke barat menuju Cinere dan Pondok Labo dan ke timur setelah Pondok Cina diteruskan ke Tanjung Barat dan berakhir di Pegangsaan masuk ke Ciliwung .

Jauh sebelumnya sudah ada kanal yang dibuat di era VOC yang menyodet sungai Ciliwung di Kampung Katulampa. Kanal ini disebut Selokan Kali Baru. Air kanal ini mengairi persawahan bari di Kampoeng Baroe yang diteruskan ke hilir. Kali Baroe ini yang mendapat pasokan tambahan air dari Kali Tjikeas akan mengairi sawah hingga ke Batavia. Kanal ini akan bertemu kembali dengan sungai Cikeas di Jakarta (yang kemudian sungai/kali baru itu dikenal sebagai Kali Sunter). Sementara itu, kali baru dari sungai Cisadane ini diintegrasikan dan memperbesar sungai kecil di Cilebut yang kemudian diteruskan untuk mengairi persawahan baru di Bojong Gede, Citayam, Depok. Aliran yang tiba  di area UI sekarang, dialihkan lagi dengan membuat kanal lanjutan untuk mengairi persawahan di Srengeseng, Lenteng Agung, Pasar Minggu.

Pemandangan Kawasan Empang dari BTM
Sumber Foto : lovelybogor(dot)com


Bendungan sungai Cipakancilan dengan membentuk kanal baru inilah yang diduga diduga yang menjadi asal muasal nama Kampung Empang. Sebagaimana dikutip di atas, nama Kampong Empang sudah dilaporkan pada tahun 1825 (era Cobben). Sebab pembendungan ini sudah dimulai sejak era Daendels (1809). Sedangkan bendungan sungai Cisadane sendiri baru terjadi pada tahun 1872. Dengan demikian, asal usul nama Kampong Empang baru muncul antara 1809-1825.


Kuliner serta oleh-oleh dari Kampung Empang

Sekarang saatnya untuk nikmati kuliner serta beli oleh-oleh dari teritori permukiman Arab. Salah satunya adalah Roti konde Ka Nung yang merupakan kuliner  peranakan Arab Bogor. Toko rotinya ada di seputar Alun-alun Empang, Kota Bogor, Jawa Barat. 

Roti konde, yang jadi oleh-oleh ciri khas Kota Bogor seperti roti unyil, sebenarnya seperti roti cane atau roti maryam. Roti konde Ka Nung ini rasa-rasanya gurih hingga dapat dikonsumsi langsung tak perlu di celupkan ke kuah kari atau gulai, seperti roti cane. Di toko Ka Nung, ada dodol ciri khas Arab yang manis gurih serta beraroma rempah.

Setelah itu  ke warung Sate Gate. Restoran ini sediakan sajian memiliki bahan penting kambing atau ayam, seperti sate, nasi kabsah, nasi kebuli, nasi goreng, marag, gulai, serta sup.   Warung yang lain ialah warung sate Pak Rebing. Tetapi, Anda harus tiba sebelum jam 11.00 untuk nikmati racikan sate di sini.

Ada juga warung kopi Mbah Sipit yang sediakan sajian kopi ciri khas Bogor. Ada sensasi unik saat nikmati sajian sate atau menyeruput kopi di teritori Empang.
Di jalan itu dapat juga diketemukan rumah tangga turunan arab yang menghasilkan kue, seperti kue pepe, samosa, serta roti cane.


Bila ingin bawa oleh-oleh cemilan ciri khas Bogor yang lain, belilah dodongkal, penganan dari tepung ketan yang dikukus dengan gula merah serta dikasih parutan kasar kelapa muda. Ada dodongkol isi keju.



Sumber Artikel :